Rabu, 26 Februari 2014

logika



ASAL USUL KONSEPSI DAN PRINSIP DASAR BERFIKIR KITA

 Pengetahuan manusia terbagi menjadi dua yang oleh para filosof muslim menyebutnya pertama sebagai pengetahuan tasawwur/konsepsi yakni pengetahuan-pengetahuan sederhana manusia tentang bentuk-bentuk atau ide-ide tunggal maupun majemuk, yang hadir dalam diri melalui penginderaan, khayal (imajinasi), wahmi atau inteleksi-akal kita. Kedua, adalah tasdhiqi yang merupakan pengetahuan-pengetahuan yang didasarkan pada penilaian dan diyakini benar. Pembagian dari kedua pengetahuan di atas tentu sangatlah perlu. Hal ini karena ketidakmampuan memahami serta memisahkan secara tegas letak perbedaan keduanya dapat berakibat fatal ketika kita hendak mempermasalahkan nilai objektifitas pengetahuan (seperti akan kita lihat nanti). Karena itu, kita dapat memulai pembahasan kita dengan membahas persoalan asal-usul konsepsi untuk kemudian melangkah pada persoalan pengetahuan penilaian (tasdhiq) dan landasannya.

ISSU ASAL-USUL PENGETAHUAN TASAWWUR/KONSEPSI 
 
1.    Pengetahuan Tasawwur/Konsepsi
Tak dapat diingkari bahwa pengetahuan yang didapat melalui panca indera (data indera) adalah merupakan sumber pertama konsepsi manusia dalam sistem pengetahuan ushuli /korespondensi. Dengan menggunakan ‘penglihatan’ didapati beberapa gagasan tentang warna-warni dan bentuk,(seperti: rumah, batu,  gunung, emas, pohon dan lain-lain) dengan ‘penciuman’ diketahui gagasan tentang bau, dengan ‘perabaan’ didapati gagasan tentang kasar, halus, lunak, lembut, keras dan lain-lain, dengan ‘pengecapan’ diketahui gagasan tentang rasa (manis, pahit, kecut dan lain-lain), begitu pula dengan ‘pendengaran’ maka hadirlah gagasan tentang bunyi. Semua gagasan itu hadir melalui indera tanpa indera maka mustahil semua gagasan itu dapat hadir dalam diri -yang oleh  para filosof seperti Al-Farabi dan Ibn Sina disebut pengetahuan Ma’kulat al-awwal/Inteliegibel Primer (pengetahuan tahap pertama).        
Kedua, dari adanya pengetahuan tahap pertama (data primer) ini kemudian dilakukan  berbagai persekutuan-persekutuan dan perbandingan-perbandingan berbagai ide-ide tadi   maka hadir beberapa gagasan baru pengetahuan ini disebut pengetahuan khayyal,  misalnya gagasan (pengetahuan) kita tentang besar dan kecil, tinggi dan rendah atau gagasan tentang gunung-emas. Pengetahuan ini jelas pengetahuan yang tidak didapatkan  melalui indera secara langsung. Hal ini karena, kita sesungguhnya tidak melihat besar dan kecil atau  tinggi dan rendah, kecuali setelah hadirnya ide-ide tentang pohon beringin dan pohon tomat. Ketika kita melihat beringin atau gunung maka yang hadir hanya ide beringin atau  gunung. Disini belum hadir gagasan tentang tinggi dan rendah. Tetapi setelah dilakukan perbandingan maka hadirlah gagasan baru yaitu tinggi dan rendah. Begitu pula kita tidak melihat ‘gunung-emas’ akan tetapi ketika ide gunung dan ide emas tersekutukan maka terpahamilah gagasan tentang gunung-emas.   
Ketiga, disamping adanya pengetahuan khayyal kita diatas manusia memiliki beberapa ide-ide yang lebih bersifat abstrak dan diketahui tanpa melewati atau terkait melalui indera. Ia hadir dan merupakan objek subjektif (imanen) namun objektif pada alamnya. Ia hadir bukan merupakan hasil pengetahuan korespondensi atau pengetahuan yang terepresentasi dari luar diri, gagasan itu seperti gagasan kita tentang cinta, dengki, dendam dan lain-lain. Ia muncul dari keadaannya yang potensial ketika jiwa berinteraksi dengan sesuatu diluar diri kita. Karenanya ia tidak memiliki realitas material. Pengetahuan ini oleh para filosof muslim disebut pengetahuan wahmi.
Keempat, pengetahuan akal yaitu pengetahuan kita yang didapatkan melalui deduksi, argumentasi, defenisi atau inteleksi-akal. Seperti pengetahuan kita mengenai gagasan kausalitas (sebab-akibat), potensi-aktual, universal-partikular, substansi-aksiden, kemungkinan-kemestian, wujud dan tak wujud, wujud dan esensi dan sejenis lainnya. Sebagai contoh adalah kertas, disini melalui indera kita hanya menangkap realitas fenomenal dari materinya saja, misalnya, bau (harum)-nya , warna (putih)-nya , bunyinya (kresek), halusnya, rasa (hambar)-nya. Tetapi bila ditanya apakah semua itu adalah kertas? Tentu jawab kita bukan! Artinya, kita benar-benar tidak menginderai kertas kecuali fenomenanya saja sebagai reaksi kejiwaan kita terhadap sesuatu.
Nah, ketika fenomena-fenomena itu hadir dalam diri dalam bentuk gagasan sebagai reaksi kejiwaan kita terhadap sesuatu maka akal kita mengetahui bahwa ada sesuatu sebagai ‘sebab’ yang memberikan fenomena-fenomena itu sebagai ‘akibatnya’ kepada kita yakni sebuah substansi yang kita beri nama ‘kertas’. Karenanya gagasan-gagasan ini benar-benar merupakan pengetahuan yang bersifat abstrak atau metafisik yang didapati melalui hasil abstraksi mental/akal dari apa-apa yang nampak oleh indera dan karena itu pula pengetahuan ini termasuk khayal dan wahmi disebut oleh kedua guru diatas sebagai “ma’kulat assani” /intelligible secondary (pengetahuan tahap kedua).

2.    Perdebatan para filosof.      
Walaupun demikian terjadi perbedaan dan perdebatan sengit perihal isu dari asal usul pengetahuan tasawwur/konsepsi dan karena itu membentuk beberapa mazhab dengan teorinya masing-masing. Dibawah ini kami mencoba menjelaskan masing-masing dari mazhab-mazhab itu berikut teorinya.

a.    Konsepsi Menurut Kaum Idealisme A-La (Plato Dan Platonic)
Menurut teori ini pengetahuan tahap pertama dan kedua pada dasarnya merupakan lompatan kesadaran-mental manusia dalam upaya mengingat kembali apa-apa yang oleh jiwa telah dikenal sejak ia masih berada di alam ide dahulu. Proses pengingatan kembali itu terjadi saat adanya rangsangan yang diberikan oleh penginderaan kita berkenaan dengan berbagai fenomena alam material –yang menurutnya merupakan bayangan dari realitas di alam idenya. Misalnya, ketika kita menginderai pohon besar dan pohon kecil di hutan atau apel merah dan apel hijau di pasar-pasar  (semua  realitas itu hanyalah bayangan dari realitas yang sesungguhnya yakni realitas idealnya).
Disini kalau kita bertanya, di manakah realitas pohon yang tidak besar dan tidak kecil? Dimanakah realitas apel yang sesungguhnya yang tidak merah dan tidak hijau itu? Bahkan dimana sesungguhnya  besar, kecil, merah dan hijau itu? Dalam hal ini dijawab oleh Plato yakni, di alam ide! Realitas-realitas itu sesungguhnya telah diketahui oleh jiwa saat kita masih berada di alam ide dahulu, bahwasanya selain kita mengetahui adanya realitas-realitas ide itu yang berhirarki, di sana terdapat pula persekutuan dari ide-ide itu, seperti buah yang dibawahnya (hirarki) ada buah-apel (yang bersekutu antara ide-apel dan ide-buah) dan buah-kelapa (yang bersekutu antara ide-buah dengan ide-kelapa) dimana buah-apel itu dibawahnya lagi terdapat apel-merah (yang bersekutu antara ide apel dan ide merah) dan apel-hijau (yang bersekutu antara ide-apel dengan ide hijau).
Di alam ide inilah sesungguhnya realitas-realitas yang tak berubah-ubah itu sebenarnya berada. Karena itu mengapa Plato disebut seorang idealis walaupun idealisme Plato berbeda dengan idealisme Berkeley mengapa? ini karena Plato masih mengakui adanya realitas (walaupun hanya banyangan) di luar persepsi inderawi (di- dunia realitas) sebaliknya Berkeley mengingkari seluruh keberadaan realitas dunia eksternal itu.
Namun teori Plato ini dipangkas rapi (bukan habis) kemudian oleh muridnya sendiri YM. Aristoteles seraya menarik gurunya kembali kealam yang lebih realistis. Yaitu bahwa apa yang dianggap oleh Plato sebagai pengingatan kembali –sesungguhnya tidaklah demikian. Sebenarnya ide pohon dan apel ideal yang hadir bukanlah disebabkan pengingatan kembali tetapi adalah hasil abstraksi mental kita yaitu dengan melakukan sejumlah penghilangan-penghilangan dari fenomena-fenomena yang berbeda-beda, seperti, dengan menghilangkan ke-besaran-nya dan ke-kecilan-nya atau ke-merahan-nya dan ke-hijauan-nya. Sehingga setelah tertanggalkan seluruh perbedaan itu, maka kita dapat memahami sebuah realitas lain yang disebut oleh YM. Aristoteles sebagai gagasan universalnya berupa pohon dan apel –saja.          
Jadi pengetahuan rasional oleh YM. Aristoteles sebagaimana yang diuraikan oleh YM. Ayatullah Muhammad Baqir Ash-shadr bahwa pohon dan apel yang dipersepsikan bukanlah realitas ideal yang sudah kita kenal atau kita saksikan di alam yang lebih tinggi, tetapi ia merupakan bentuk (form). (falsafahtuna, hal 28). Sesungguhnya fenomena-fenomena aksidental dari sesuatu tidaklah terpisahkan dari substansinya sebagai hakikat atau sebabnya. Ia bersama-dibalik apa yang nampak oleh indera di luar di alam realitas. Bukan hanya itu, disini nampak bahwa Plato terjebak pada dualisme yang tak terjawabkan bahkan Plato sendiri tidak mampu menjelaskan secara filosofis –sebagai alasan mengapa jiwa yang pernah hidup di alam ide itu turun kedunia realitas serta gagal menjelaskan bagaimana hubungan antara jiwa dan jasad.
Bagi YM. Aristoteles kata Syahid M. Muthahari ra. bahwa keduanya memiliki hubungan erat dan alamiah. Beliau memandang hubungan antara jiwa dan jasad termasuk dalam jenis hubungan bentuk terhadap materi yang darinya ia berasal, dengan perbedaan bahwa karena fakultas rasional bersifat abstrak, maka ia adalah sebuah bentuk bersama materi, bukan bentuk didalam materi. Pada mulanya merupakan potensi semata-mata. Ia tidak memerlukan pengetahuan awal –sebagaimana yang dipahami Plato-2  apapun; ia mengaktualisasikan seluruh pengetahuannya di dunia ini ( Ruh materi dan kehidupan, seri muthahari, no.5 hal. 11).
b.    Konsepsi menurut kaum rasionalime a-la (Descartes dan Kant) .       
Teori ini memandang adanya dua sumber pengetahuan yakni indera yang dengan itu kita memiliki gagasan tentang bau, warna, manis, bunyi dan suhu. Kedua gagasan berasal dari fitri yang menurut Descartes (1596 – 1650) seperti ide-ide tentang ‘Tuhan’, ‘jiwa’, ‘gerak’, ‘perluasan’ serta seluruh gagasan yang jelas dan tegas dalam diri. Adapun bagi Kant adalah gagasan tentang dua intuisi indera yakni “ruang” dan “waktu” serta pola-pola yang merupakan intuisi/bidang akal yakni dua belas kategori yang terkenal darinya. Kesemua ide-ide itu bagi keduanya telah ada dalam diri secara fitri tanpa dikenal dan terkait dengan indera sedikitpun. 
Indera walaupun memberikan beberapa gagasan namun bagi keduanya indera tidak memberikan ide-ide jelas dan pasti dalam pikiran. Karena itu wajar bila Descartes menolak seluruh ide-ide inderawi, adapun bagi Kant bahwa seluruh yang diamati itu masuk kedalam kerangka ruang dan waktu. Kant, sebagaimana yang dijelaskan oleh Harry Hamersma bahwa ketika saya mengamati laut, sesungguhnya saya hanya mengamati suatu gelombang, suatu ukuran-ukuran, suatu ritme, suatu frekuensi. Kemudian signal dari panca indera , yang sudah diterjemahkan dalam “ruang”   dan “waktu “ kemudian masuk bidang akal yakni dua belas kategori (Tokoh-tokoh filsafat modern, 1990, hal. 19).
Dengan demikian menjadi jelaslah mengapa kedua tokoh ini menyandarkan seluruh gagasan-gagasan dalam diri adalah gagasan yang dimunculkan dalam jiwa semata. Tetapi pandangan ini kemudian mendapat kritikan-kritikan baik lunak maupun tajam sebagai berikut:      
Pertama, kritikan yang dilontarkan oleh filosof muslim YM. Ayatullah M. Baqir Ash-Shadr bahwa jiwa itu sederhana  makanya jiwa mustahil menjadi sebab fitri bagi sejumlah konsepsi dan gagasan-gagasan fitri. Bukankah kaidah filosifis menyatakan bahwa suatu kebergandaan efek tidak mingkin keluar dari sesuatu yang sederhana? Sungguh, kalau kaum rasionalis mempercayai hal itu, maka perasaan lebih dalam manusiawi kita sudah cukup untuk menolak teori mereka (Falsafatuna, hal 30 – 31). Hanya saja beliau menambahkan bahwa kritiknya ini tidak bermaksud menghancurkan seluruh teori diatas. Tetapi beliau ingin membuktikan bahwa mustahil adanya multiplitas pengetahuan-pengetahuan fitri.
Kedua, serangan yang dilancarkan oleh kaum empirisme seperti akan kita lihat pada teori mereka. Serangan kaum empiris ini betul-betul berupaya meluluh-lantakkan seluruh teori rasionalis diatas, sehingga pada akhirnya menggiring mereka membentuk sebuah titik ekstrim lain yang lebih fatal yakni menyandarkan seluruh pengetahuan manusia semata-mata hanya melalui indera.
c.    Konsepsi menurut kaum empirisme. 
Selain titik ekstrim dari kaum rasionalisme diatas adalah empirisme yang berada di titik ekstrim lain yang berhadap-hadapan. Aliran ini dirintis oleh Thomas Hobbes dan John Lucke (1632 – 1704) dan dilanjutkan kemudian oleh Bekeley, David Hume, dan terakhir berpuncak pada kaum materialisme-dialektik (Karl Marx dan marxisme). Dalam hal ini, Harry Hamersma menjelaskan mengenai sumber pengetahuan menurut Locke bahwa “Segala sesuatu dalam pikiran saya, berasal dari pengalaman inderawi. Tidak dari akal-budi. Otak itu seperti sehelai kertas yang masih putih. Baru melalui pengalaman inderawi, helai kertas itu diisi”. Kemudian Ia melanjutkan perkataan  Locke bahwa “Isi otak saya terdiri dari ide-ide, yakni jenis ide-ide tunggal dan majemuk. Adapun ide-ide tunggal berasal dari secara langsung dari pengalaman indera dan ide-ide majemuk hanyalah “hubungan-hubungan dari ide-ide tunggal. Misalnya ‘sebab’, ‘akibat’, ‘relasi’, ‘syarat’ tidak diamati secara langsung, tetapi ‘dilihat’ melalui kombinasi ide-ide tunggal”.   (tokoh-tokoh filsafat barat modern, 1990 hal. 19).
Dari sini-lah Hume kemudian membangun dan menjelaskan gagasannya bahwa kausalitas hanyalah merupakan hubungan-hubungan yang didasarkan pada subjektifitas. Dalam arti bahwa kausalitas bukanlah suatu yang memiliki realitas objektif. Adapun konstribusi yang diberikan oleh kaum materialisme dialektik dalam dukungannya terhadap teori ini dapat dilihat pada apa yang dikatakan oleh Marx dan Marxisme tentang pengetahuan, bahwa seluruh pengetahuan manusia hanyalah merupakan cerminan realitas dan cermin itu sendiri adalah penginderaan. Pengetahuan atau pemikiran tidak mungkin dihubungkan dengan apapun yang berada di luar batas-batas cerminan inderawi. Dalam arti bahwa kita mustahil dapat memahami sesuatu yang tidak terinderai itu, menjadi gagasan bagi kita.
Ini bukan berarti bahwa sebenarnya sesuatu itu ada hanya tidak terlihat tetapi sesunguhnya ia tidak ada serta tidak objektif, mengapa? karena ia tidak terlihat. Dengan demikian mustahil pula kita dapat mendapatkan dan mempunyai gagasan tentang sesuatu itu. Demikianlah pandangan ini menjadikan pengalaman inderawi atau eksperimen sebagai cara satu-satunya untuk bagaimana realitas objektif alam materi itu itu menjadi konsepsi-konsepsi manusia.
Tetapi persoalanya adalah bahwa kaum empiris itu hanyalah menjelaskan tentang indera sebagai sumber primer data inderawi. Mereka sesungguhnya tidak membuktikan bahwa akal mandul dalam memahami realitas objektif. Dengan kata lain mereka tidak menghalangi kemampuan akal dalam menangkap sesuatu di balik fenomena-fenomena inderawi sebagai pengetahuan baru yang tidak tersentuh dan digapai pengalaman inderawi atau eksperimen ilmiah. Gagasan baru yang tidak diketahui indera itu tetapi diketahui akal itu seperti gagasan tentang ‘Kausalitas’ (kebutuhan akibat akan sebabnya), ‘Substansi-Aksiden’, ‘Wujud-Esensi’, ‘Wujud-tak wujud’, ‘Gaya-gravitasi’, ‘Universal-Partikular’, ‘Kuantitas-Kualitas’ dan lain-lain.
Dalam hal ini kita ambil contoh kasus seperti yang terjadi ketika sebuah apel jatuh pas di depan Newton. Secara inderawi kita dan Newton hanya memiliki gagasan tentang apel, pohon, jatuh, dan bumi selain itu tidak ada lagi. Tetapi mengapa kita dan Newton   secara intuitif bertanya mengapa apel tersebut tidak melayang ke atas dan apa yang sesungguhnya yang membuat ia jatuh ke bawah? Bukankah ketika bertanya sesungguhnya kita dan Newton telah mengkonsepsikan kausalitas (yang menyatakan bahwa setiap peristiwa itu pasti membutuhkan sebab-nya agar ia dapat eksis) sehingga melalui hukum kausalitas itu Newton dan kita sampai pada suatu realitas lain yakni gagasan tentang gravitasi?
Tentu jawabnya adalah bahwa sesunguhnya Newton dan kita telah mengkonsepsikan gagasan kausalitas. Sebab jika tidak maka mustahil bagi Newton dan kita mesti bertanya. Karena itu kita dapat menyodorkan beberapa pertanyaan. Pertama, apakah ketika sesuatu itu tidak terinderai dengan demikian sesuatu itu tidak objektif? Sungguh! jika kaum empiris ini menjawab ya! Maka sesunguhnya mereka telah menghancurkan seluruh bangunan pengetahuan manusia termasuk keyakinan Teologi (untuk pembahasan lebih lanjut lihat bab II).. Kedua, apakah gagasan kausalitas dan gaya gravitasi (yang menjadi alasan bertanya) itu di konsepsikan karena ia terlihat? Jika jawabnya terlihat! Maka mengapa hukum gravitasi itu baru diketahui oleh Newton. Tetapi jika jawabnya tidak! Maka bagaimana gagasan itu hadir dalam diri Newton dan Kita? Sungguh! ini merupakan sebuah bukti bahwa akal manusia (sehat) memiliki kemampuan mengetahui realitas-realitas yang sifatnya abstrak /metafisik. Akhirnya kita tak dapat dihindari untuk menerima pandangan keempat sebagaimana yang dianut oleh para filosof-filosof muslim yakni teori intiza.
d.    Teori Intiza (desposesi) dari YM. Ayatullah M. Baqir Ash shard. ra.         
Teori ini memandang bahwa konsepsi itu tersusun dari dua yaitu konsepsi primer yang bersumber dari data inderawi. Misalnya, persepsi inderawi kita tentang buah apel, jatuh ,bumi. Tetapi ketika begitu data inderawi tersebut hadir dalam pikiran maka terpahami oleh kita sebuah realitas objektif  ‘kausalitas’ yang berdasarkan itu kita dapat memahami realitas lain yakni  adanya ‘gaya-gravitasi’ bumi. Demikianlan pengetahuan menusia dapat berangkat mengapai pengetahuan-pengetahuan baru lainnya. Nah, kedua realitas objektif yakni keniscayaan kausalitas dan gaya gravitasi yang tak nampak secara indera inilah yang kita sebut konsepsi sekunder.
Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, kita tak bermaksud mengingkari sumbangsih data-data pengalaman inderawi atau eksperimen sebagai data primer manusia bahkan kita justeru membutuhkannya. Tetapi yang diinginkan adalah dengan mematok secara ekstrim bahwa inderalah satu-satunya sebagai sumber bagi konsepsi dan menolak seluruh pengetahuan yang tidak disentuhnya.
Kedua, sebaliknya memahami bahwa jiwa merupakan sumber satu-satunya seluruh gagasan (konsepsi) dan tak terkait secara murni dengan indera– itu yang kami tolak.
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar