ASAL USUL KONSEPSI DAN PRINSIP DASAR BERFIKIR KITA
Pengetahuan
manusia terbagi menjadi dua yang oleh para filosof muslim menyebutnya pertama
sebagai pengetahuan tasawwur/konsepsi yakni pengetahuan-pengetahuan sederhana
manusia tentang bentuk-bentuk atau ide-ide tunggal maupun majemuk, yang hadir
dalam diri melalui penginderaan, khayal
(imajinasi), wahmi atau inteleksi-akal kita. Kedua, adalah tasdhiqi
yang merupakan pengetahuan-pengetahuan yang didasarkan pada penilaian dan
diyakini benar. Pembagian dari kedua pengetahuan di atas tentu sangatlah perlu.
Hal ini karena ketidakmampuan memahami serta memisahkan secara tegas letak
perbedaan keduanya dapat berakibat fatal ketika kita hendak mempermasalahkan
nilai objektifitas pengetahuan (seperti akan kita lihat nanti). Karena itu,
kita dapat memulai pembahasan kita dengan membahas persoalan asal-usul konsepsi
untuk kemudian melangkah pada persoalan pengetahuan penilaian (tasdhiq) dan
landasannya.
ISSU ASAL-USUL
PENGETAHUAN TASAWWUR/KONSEPSI
1.
Pengetahuan Tasawwur/Konsepsi
Tak dapat diingkari bahwa pengetahuan yang didapat
melalui panca indera (data indera) adalah merupakan sumber pertama konsepsi
manusia dalam sistem pengetahuan ushuli /korespondensi. Dengan menggunakan
‘penglihatan’ didapati beberapa gagasan tentang warna-warni dan
bentuk,(seperti: rumah, batu, gunung,
emas, pohon dan lain-lain) dengan ‘penciuman’ diketahui gagasan tentang bau,
dengan ‘perabaan’ didapati gagasan tentang kasar, halus, lunak, lembut, keras
dan lain-lain, dengan ‘pengecapan’ diketahui gagasan tentang rasa (manis,
pahit, kecut dan lain-lain), begitu pula dengan ‘pendengaran’ maka hadirlah gagasan
tentang bunyi. Semua gagasan itu hadir melalui indera tanpa indera maka
mustahil semua gagasan itu dapat hadir dalam diri -yang oleh para filosof seperti Al-Farabi dan Ibn Sina
disebut pengetahuan Ma’kulat al-awwal/Inteliegibel Primer (pengetahuan tahap
pertama).
Kedua, dari adanya pengetahuan tahap pertama (data
primer) ini kemudian dilakukan berbagai
persekutuan-persekutuan dan perbandingan-perbandingan berbagai ide-ide
tadi maka hadir beberapa gagasan baru
pengetahuan ini disebut pengetahuan khayyal,
misalnya gagasan (pengetahuan) kita tentang besar dan kecil, tinggi dan
rendah atau gagasan tentang gunung-emas. Pengetahuan ini jelas pengetahuan yang
tidak didapatkan melalui indera secara
langsung. Hal ini karena, kita sesungguhnya tidak melihat besar dan kecil
atau tinggi dan rendah, kecuali setelah
hadirnya ide-ide tentang pohon beringin dan pohon tomat. Ketika kita melihat
beringin atau gunung maka yang hadir hanya ide beringin atau gunung. Disini belum hadir gagasan tentang
tinggi dan rendah. Tetapi setelah dilakukan perbandingan maka hadirlah gagasan
baru yaitu tinggi dan rendah. Begitu pula kita tidak melihat ‘gunung-emas’ akan
tetapi ketika ide gunung dan ide emas tersekutukan maka terpahamilah gagasan
tentang gunung-emas.
Ketiga, disamping adanya pengetahuan khayyal kita diatas
manusia memiliki beberapa ide-ide yang lebih bersifat abstrak dan diketahui
tanpa melewati atau terkait melalui indera. Ia hadir dan merupakan objek subjektif (imanen) namun objektif
pada alamnya. Ia hadir bukan merupakan hasil pengetahuan korespondensi atau
pengetahuan yang terepresentasi dari luar diri, gagasan itu seperti gagasan
kita tentang cinta, dengki, dendam dan
lain-lain. Ia muncul dari keadaannya yang potensial ketika jiwa
berinteraksi dengan sesuatu diluar diri kita. Karenanya ia tidak memiliki
realitas material. Pengetahuan ini oleh para filosof muslim disebut pengetahuan
wahmi.
Keempat, pengetahuan akal
yaitu pengetahuan kita yang didapatkan melalui deduksi, argumentasi, defenisi atau inteleksi-akal. Seperti
pengetahuan kita mengenai gagasan kausalitas
(sebab-akibat), potensi-aktual, universal-partikular, substansi-aksiden,
kemungkinan-kemestian, wujud dan tak wujud, wujud dan esensi dan sejenis
lainnya. Sebagai contoh adalah kertas, disini melalui indera kita hanya
menangkap realitas fenomenal dari materinya saja, misalnya, bau (harum)-nya ,
warna (putih)-nya , bunyinya (kresek), halusnya, rasa (hambar)-nya. Tetapi bila
ditanya apakah semua itu adalah kertas? Tentu jawab kita bukan! Artinya, kita
benar-benar tidak menginderai kertas kecuali fenomenanya saja sebagai reaksi
kejiwaan kita terhadap sesuatu.
Nah, ketika fenomena-fenomena itu hadir dalam diri dalam
bentuk gagasan sebagai reaksi kejiwaan kita terhadap sesuatu maka akal kita
mengetahui bahwa ada sesuatu sebagai ‘sebab’ yang memberikan fenomena-fenomena
itu sebagai ‘akibatnya’ kepada kita yakni sebuah substansi yang kita beri nama
‘kertas’. Karenanya gagasan-gagasan ini benar-benar merupakan pengetahuan yang
bersifat abstrak atau metafisik yang didapati melalui hasil abstraksi
mental/akal dari apa-apa yang nampak oleh indera dan karena itu pula
pengetahuan ini termasuk khayal dan wahmi disebut oleh kedua guru diatas
sebagai “ma’kulat assani” /intelligible secondary (pengetahuan tahap kedua).
2.
Perdebatan para filosof.
Walaupun demikian terjadi perbedaan dan perdebatan sengit
perihal isu dari asal usul pengetahuan tasawwur/konsepsi dan karena itu
membentuk beberapa mazhab dengan teorinya masing-masing. Dibawah ini kami
mencoba menjelaskan masing-masing dari mazhab-mazhab itu berikut teorinya.
a.
Konsepsi Menurut Kaum Idealisme A-La (Plato Dan Platonic)
Menurut teori ini pengetahuan tahap pertama dan kedua
pada dasarnya merupakan lompatan kesadaran-mental manusia dalam upaya mengingat
kembali apa-apa yang oleh jiwa telah dikenal sejak ia masih berada di alam ide
dahulu. Proses pengingatan kembali itu terjadi saat adanya rangsangan yang
diberikan oleh penginderaan kita berkenaan dengan berbagai fenomena alam
material –yang menurutnya merupakan bayangan dari realitas di alam idenya.
Misalnya, ketika kita menginderai pohon besar dan pohon kecil di hutan atau
apel merah dan apel hijau di pasar-pasar
(semua realitas itu hanyalah
bayangan dari realitas yang sesungguhnya yakni realitas idealnya).
Disini kalau kita bertanya, di manakah realitas pohon
yang tidak besar dan tidak kecil? Dimanakah realitas apel yang sesungguhnya
yang tidak merah dan tidak hijau itu? Bahkan dimana sesungguhnya besar, kecil, merah dan hijau itu? Dalam hal
ini dijawab oleh Plato yakni, di alam ide! Realitas-realitas itu sesungguhnya
telah diketahui oleh jiwa saat kita masih berada di alam ide dahulu, bahwasanya
selain kita mengetahui adanya realitas-realitas ide itu yang berhirarki, di
sana terdapat pula persekutuan dari ide-ide itu, seperti buah yang dibawahnya
(hirarki) ada buah-apel (yang bersekutu antara ide-apel dan ide-buah) dan
buah-kelapa (yang bersekutu antara ide-buah dengan ide-kelapa) dimana buah-apel
itu dibawahnya lagi terdapat apel-merah (yang bersekutu antara ide apel dan ide
merah) dan apel-hijau (yang bersekutu antara ide-apel dengan ide hijau).
Di alam ide inilah sesungguhnya realitas-realitas yang
tak berubah-ubah itu sebenarnya berada. Karena itu mengapa Plato disebut
seorang idealis walaupun idealisme Plato berbeda dengan idealisme Berkeley
mengapa? ini karena Plato masih mengakui adanya realitas (walaupun hanya
banyangan) di luar persepsi inderawi (di- dunia realitas) sebaliknya Berkeley
mengingkari seluruh keberadaan realitas dunia eksternal itu.
Namun teori Plato ini dipangkas rapi (bukan habis)
kemudian oleh muridnya sendiri YM. Aristoteles seraya menarik gurunya kembali
kealam yang lebih realistis. Yaitu bahwa apa yang dianggap oleh Plato sebagai
pengingatan kembali –sesungguhnya tidaklah demikian. Sebenarnya ide pohon dan
apel ideal yang hadir bukanlah disebabkan pengingatan kembali tetapi adalah
hasil abstraksi mental kita yaitu dengan melakukan sejumlah
penghilangan-penghilangan dari fenomena-fenomena yang berbeda-beda, seperti,
dengan menghilangkan ke-besaran-nya dan ke-kecilan-nya atau ke-merahan-nya dan
ke-hijauan-nya. Sehingga setelah tertanggalkan seluruh perbedaan itu, maka kita
dapat memahami sebuah realitas lain yang disebut oleh YM. Aristoteles sebagai
gagasan universalnya berupa pohon dan apel –saja.
Jadi pengetahuan rasional oleh YM. Aristoteles
sebagaimana yang diuraikan oleh YM. Ayatullah Muhammad Baqir Ash-shadr bahwa
pohon dan apel yang dipersepsikan bukanlah realitas ideal yang sudah kita kenal
atau kita saksikan di alam yang lebih tinggi, tetapi ia merupakan bentuk
(form). (falsafahtuna, hal 28). Sesungguhnya fenomena-fenomena aksidental dari
sesuatu tidaklah terpisahkan dari substansinya sebagai hakikat atau sebabnya.
Ia bersama-dibalik apa yang nampak oleh indera di luar di alam realitas. Bukan
hanya itu, disini nampak bahwa Plato terjebak pada dualisme yang tak
terjawabkan bahkan Plato sendiri tidak mampu menjelaskan secara filosofis
–sebagai alasan mengapa jiwa yang pernah hidup di alam ide itu turun kedunia realitas
serta gagal menjelaskan bagaimana hubungan antara jiwa dan jasad.
Bagi YM. Aristoteles kata Syahid M. Muthahari ra. bahwa
keduanya memiliki hubungan erat dan alamiah. Beliau memandang hubungan antara
jiwa dan jasad termasuk dalam jenis hubungan bentuk terhadap materi yang
darinya ia berasal, dengan perbedaan bahwa karena fakultas rasional bersifat
abstrak, maka ia adalah sebuah bentuk bersama materi, bukan bentuk didalam
materi. Pada mulanya merupakan potensi semata-mata. Ia tidak memerlukan pengetahuan
awal –sebagaimana yang dipahami Plato-2
apapun; ia mengaktualisasikan seluruh pengetahuannya di dunia ini ( Ruh
materi dan kehidupan, seri muthahari, no.5 hal. 11).
b.
Konsepsi menurut kaum rasionalime a-la (Descartes dan
Kant) .
Teori ini memandang adanya dua sumber pengetahuan yakni
indera yang dengan itu kita memiliki gagasan tentang bau, warna, manis, bunyi
dan suhu. Kedua gagasan berasal dari fitri yang menurut Descartes (1596 – 1650)
seperti ide-ide tentang ‘Tuhan’, ‘jiwa’, ‘gerak’, ‘perluasan’ serta seluruh
gagasan yang jelas dan tegas dalam diri. Adapun bagi Kant adalah gagasan
tentang dua intuisi indera yakni “ruang” dan “waktu” serta pola-pola yang
merupakan intuisi/bidang akal yakni dua belas kategori yang terkenal darinya.
Kesemua ide-ide itu bagi keduanya telah ada dalam diri secara fitri tanpa
dikenal dan terkait dengan indera sedikitpun.
Indera walaupun memberikan beberapa gagasan namun bagi
keduanya indera tidak memberikan ide-ide jelas dan pasti dalam pikiran. Karena
itu wajar bila Descartes menolak seluruh ide-ide inderawi, adapun bagi Kant
bahwa seluruh yang diamati itu masuk kedalam kerangka ruang dan waktu. Kant,
sebagaimana yang dijelaskan oleh Harry Hamersma bahwa ketika saya mengamati
laut, sesungguhnya saya hanya mengamati suatu gelombang, suatu ukuran-ukuran,
suatu ritme, suatu frekuensi. Kemudian signal dari panca indera , yang sudah
diterjemahkan dalam “ruang” dan “waktu
“ kemudian masuk bidang akal yakni dua belas kategori (Tokoh-tokoh filsafat
modern, 1990, hal. 19).
Dengan demikian menjadi jelaslah mengapa kedua tokoh ini
menyandarkan seluruh gagasan-gagasan dalam diri adalah gagasan yang dimunculkan
dalam jiwa semata. Tetapi pandangan ini kemudian mendapat kritikan-kritikan
baik lunak maupun tajam sebagai berikut:
Pertama, kritikan yang dilontarkan oleh filosof muslim
YM. Ayatullah M. Baqir Ash-Shadr bahwa jiwa itu sederhana makanya jiwa mustahil menjadi sebab fitri
bagi sejumlah konsepsi dan gagasan-gagasan fitri. Bukankah kaidah filosifis
menyatakan bahwa suatu kebergandaan efek tidak mingkin keluar dari sesuatu yang
sederhana? Sungguh, kalau kaum rasionalis mempercayai hal itu, maka perasaan
lebih dalam manusiawi kita sudah cukup untuk menolak teori mereka (Falsafatuna,
hal 30 – 31). Hanya saja beliau menambahkan bahwa kritiknya ini tidak bermaksud
menghancurkan seluruh teori diatas. Tetapi beliau ingin membuktikan bahwa
mustahil adanya multiplitas pengetahuan-pengetahuan fitri.
Kedua, serangan yang dilancarkan oleh kaum empirisme
seperti akan kita lihat pada teori mereka. Serangan kaum empiris ini
betul-betul berupaya meluluh-lantakkan seluruh teori rasionalis diatas,
sehingga pada akhirnya menggiring mereka membentuk sebuah titik ekstrim lain
yang lebih fatal yakni menyandarkan seluruh pengetahuan manusia semata-mata
hanya melalui indera.
c.
Konsepsi menurut kaum empirisme.
Selain titik ekstrim dari kaum rasionalisme diatas adalah
empirisme yang berada di titik ekstrim lain yang berhadap-hadapan. Aliran ini
dirintis oleh Thomas Hobbes dan John
Lucke (1632 – 1704) dan dilanjutkan kemudian oleh Bekeley, David Hume, dan
terakhir berpuncak pada kaum materialisme-dialektik (Karl Marx dan marxisme). Dalam hal ini, Harry Hamersma menjelaskan
mengenai sumber pengetahuan menurut Locke bahwa “Segala sesuatu dalam pikiran
saya, berasal dari pengalaman inderawi. Tidak dari akal-budi. Otak itu seperti
sehelai kertas yang masih putih. Baru melalui pengalaman inderawi, helai kertas
itu diisi”. Kemudian Ia melanjutkan perkataan
Locke bahwa “Isi otak saya terdiri dari ide-ide, yakni jenis ide-ide
tunggal dan majemuk. Adapun ide-ide tunggal berasal dari secara langsung dari
pengalaman indera dan ide-ide majemuk hanyalah “hubungan-hubungan dari ide-ide
tunggal. Misalnya ‘sebab’, ‘akibat’, ‘relasi’, ‘syarat’ tidak diamati secara langsung,
tetapi ‘dilihat’ melalui kombinasi ide-ide tunggal”. (tokoh-tokoh filsafat barat modern, 1990
hal. 19).
Dari sini-lah Hume kemudian membangun dan menjelaskan
gagasannya bahwa kausalitas hanyalah merupakan hubungan-hubungan yang
didasarkan pada subjektifitas. Dalam arti bahwa kausalitas bukanlah suatu yang
memiliki realitas objektif. Adapun konstribusi yang diberikan oleh kaum
materialisme dialektik dalam dukungannya terhadap teori ini dapat dilihat pada
apa yang dikatakan oleh Marx dan Marxisme tentang pengetahuan, bahwa seluruh
pengetahuan manusia hanyalah merupakan cerminan realitas dan cermin itu sendiri
adalah penginderaan. Pengetahuan atau pemikiran tidak mungkin dihubungkan
dengan apapun yang berada di luar batas-batas cerminan inderawi. Dalam arti
bahwa kita mustahil dapat memahami sesuatu yang tidak terinderai itu, menjadi
gagasan bagi kita.
Ini bukan berarti bahwa sebenarnya sesuatu itu ada hanya
tidak terlihat tetapi sesunguhnya ia tidak ada serta tidak objektif, mengapa?
karena ia tidak terlihat. Dengan demikian mustahil pula kita dapat mendapatkan
dan mempunyai gagasan tentang sesuatu itu. Demikianlah pandangan ini menjadikan
pengalaman inderawi atau eksperimen sebagai cara satu-satunya untuk bagaimana
realitas objektif alam materi itu itu menjadi konsepsi-konsepsi manusia.
Tetapi persoalanya adalah bahwa kaum empiris itu hanyalah
menjelaskan tentang indera sebagai sumber primer data inderawi. Mereka
sesungguhnya tidak membuktikan bahwa akal mandul dalam memahami realitas
objektif. Dengan kata lain mereka tidak menghalangi kemampuan akal dalam
menangkap sesuatu di balik fenomena-fenomena inderawi sebagai pengetahuan baru
yang tidak tersentuh dan digapai pengalaman inderawi atau eksperimen ilmiah.
Gagasan baru yang tidak diketahui indera itu tetapi diketahui akal itu seperti
gagasan tentang ‘Kausalitas’ (kebutuhan akibat akan sebabnya),
‘Substansi-Aksiden’, ‘Wujud-Esensi’, ‘Wujud-tak wujud’, ‘Gaya-gravitasi’,
‘Universal-Partikular’, ‘Kuantitas-Kualitas’ dan lain-lain.
Dalam hal ini kita ambil contoh kasus seperti yang
terjadi ketika sebuah apel jatuh pas di depan Newton. Secara inderawi kita dan
Newton hanya memiliki gagasan tentang apel, pohon, jatuh, dan bumi selain itu
tidak ada lagi. Tetapi mengapa kita dan Newton
secara intuitif bertanya mengapa apel tersebut tidak melayang ke atas
dan apa yang sesungguhnya yang membuat ia jatuh ke bawah? Bukankah ketika
bertanya sesungguhnya kita dan Newton telah mengkonsepsikan kausalitas (yang
menyatakan bahwa setiap peristiwa itu pasti membutuhkan sebab-nya agar ia dapat
eksis) sehingga melalui hukum kausalitas itu Newton dan kita sampai pada suatu
realitas lain yakni gagasan tentang gravitasi?
Tentu jawabnya adalah bahwa sesunguhnya Newton dan kita
telah mengkonsepsikan gagasan kausalitas. Sebab jika tidak maka mustahil bagi
Newton dan kita mesti bertanya. Karena itu kita dapat menyodorkan beberapa
pertanyaan. Pertama, apakah ketika sesuatu itu tidak terinderai dengan demikian
sesuatu itu tidak objektif? Sungguh! jika kaum empiris ini menjawab ya! Maka
sesunguhnya mereka telah menghancurkan seluruh bangunan pengetahuan manusia
termasuk keyakinan Teologi (untuk pembahasan lebih lanjut lihat bab II)..
Kedua, apakah gagasan kausalitas dan gaya gravitasi (yang menjadi alasan
bertanya) itu di konsepsikan karena ia terlihat? Jika jawabnya terlihat! Maka
mengapa hukum gravitasi itu baru diketahui oleh Newton. Tetapi jika jawabnya
tidak! Maka bagaimana gagasan itu hadir dalam diri Newton dan Kita? Sungguh!
ini merupakan sebuah bukti bahwa akal manusia (sehat) memiliki kemampuan
mengetahui realitas-realitas yang sifatnya abstrak /metafisik. Akhirnya kita
tak dapat dihindari untuk menerima pandangan keempat sebagaimana yang dianut
oleh para filosof-filosof muslim yakni teori intiza.
d.
Teori Intiza (desposesi) dari YM. Ayatullah M. Baqir Ash
shard. ra.
Teori ini memandang bahwa konsepsi itu tersusun dari dua
yaitu konsepsi primer yang bersumber dari data inderawi. Misalnya, persepsi
inderawi kita tentang buah apel, jatuh ,bumi. Tetapi ketika begitu data
inderawi tersebut hadir dalam pikiran maka terpahami oleh kita sebuah realitas
objektif ‘kausalitas’ yang berdasarkan
itu kita dapat memahami realitas lain yakni
adanya ‘gaya-gravitasi’ bumi. Demikianlan pengetahuan menusia dapat
berangkat mengapai pengetahuan-pengetahuan baru lainnya. Nah, kedua realitas
objektif yakni keniscayaan kausalitas dan gaya gravitasi yang tak nampak secara
indera inilah yang kita sebut konsepsi sekunder.
Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat menarik
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, kita tak bermaksud mengingkari sumbangsih
data-data pengalaman inderawi atau eksperimen sebagai data primer manusia
bahkan kita justeru membutuhkannya. Tetapi yang diinginkan adalah dengan
mematok secara ekstrim bahwa inderalah satu-satunya sebagai sumber bagi
konsepsi dan menolak seluruh pengetahuan yang tidak disentuhnya.
Kedua, sebaliknya memahami bahwa jiwa merupakan sumber
satu-satunya seluruh gagasan (konsepsi) dan tak terkait secara murni dengan
indera– itu yang kami tolak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar